Selamat Datang

Semoga blog ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua.
Loading...

Kamis, 28 Juli 2011

Problem Based Learning DAN PROBLEM SOLVING

OLEH AISYAH DKK

I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Salah satu kegiatan pendidikan adalah menyelenggarakan proses belajar mengajar. Winkel (dalam Darsono dkk, 2000) mengungkapkan pengertian belajar sebagai suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Belajar dapat membawa perubahan dan perubahan itu pada pokoknya adalahdiperoleh kecakapan baru melaluisuatu usaha.

Para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan
yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk
mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran
perlu adanya suasana yang terbuka, akrab dan saling menghargai. Sebaliknya
perlu menghindari suasana belajar yang kaku, penuh dengan ketegangan dan
sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif,
tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kebosanan (Dasim Budimansyah,2002).

Pada kurikulum 2006 dikemukakan bahwa pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta
didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek
pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-
hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman
langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelejahi dan memahami
alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan
berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh
pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Bambang Sudibyo,2006).


Dalam melakukan proses pembelajaran guru dapat memilih beberapa
metode mengajar. Metode mengajar banyak sekali jenisnya. Masing-masing
metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kekurangan suatu metode
dapat ditutup dengan metode yang lain, sehingga guru dapat menggunakan
beberapa metode dalam melakukan proses pembelajaran. Pemilihan suatu
metode perlu memperhatikan beberapa hal seperti yang disampaikan, tujuan
pembelajaran, waktu yang tersedia, jumlah siswa, mata pelajaran, fasilitas dan
kondisi siswa dalam pembelajaran serta hal-hal yang berkaitan dengan
keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran (Sumadi Suryabrata, 1993).
Dalam pembelajaran IPA yang berlangsung saat ini
menggunakan sistem penyampaian klasikal, yaitu sistem yang bertumpu pada
aktivitas guru. Pada umumnya guru cenderung menggunakan metode ceramah
dalam mengajar karena mudah dilakukan dan cepat. Bertumpunya proses
belajar mengajar pada guru menimbulkan kurang tumbuh berkembangnya
sikap kemandirian belajar pada anak, sebab anak akan cenderung menganggap
dirinya tergantung pada guru dan sekolah dalam belajar. Tanpa guru dan
sekolah, siswa merasa tidak dapat belajar dan tidak perlu belajar secara teratur.

Sikap ini bahkan dapat tumbuh dalam diri orang tuanya, sehingga sekolah dan
guru dianggap sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas
keberhasilan anak dalam belajar. Untuk mengatasi kelemahan penggunaan metode ceramah yang digunakan suatu bentuk pembelajaran yang mampu melayani perbedaan individual siswa. Secara aktif dalam proses belajar mengajar, yaitu metode
pembelajaran kooperatif problem solving. Metode kooperatif dan metode problem solving setiap siswa dituntut untuk bekerja secara kelompok guna menyelesaikan maslah yang diberikan secara sistematis berdasarkan tahap-tahap yang telah ditentukan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
• Untuk mengetahui metode pembelajaran problem solving
• Untuk mengetahui metode pembelajaran problem based learning
• Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara problem solving dan problem based learning.














II. PEMBAHASAN

A. PROBLEM SOLVING
1. Pengertian Problem Solving

Sebelum memberikan pengertian tentang problem solving atau pemecahan masalah, terlebih dahulu membahas tentang masalah atau problem. Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah jika seseorang tidak mempunyai aturan tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Munurut Polya (dalam Hudojo, 2003:150), terdapat dua macam masalah :

(1) Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk teka-teki. Kita harus mencari variabel masalah tersebut, kemudian mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagian utama dari masalah adalah sebagai berikut.
(a) Apakah yang dicari?
(b) Bagaimana data yang diketahui?
(c) Bagaimana syaratnya?

(2) Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus menjawab pertanyaan : ”Apakah pernyataan itu benar atau salah ?”. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya.
Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan dan usaha-usaha untuk menyelesaikannya sampai memperoleh penyelesaian. Sedangkan pengajaran penyelesaian masalah merupakan tindakan guru dalam mendorong siswa agar menerima tantangan dari pertanyaan bersifat menantang, dan mengarahkan siswa agar dapat menyelesaikan pertanyaan tersebut (sukoriyanto, 2001:103

Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:151). Problem solving yaitu suatu pendekatan dengan cara problem identifikation untuk ketahap syntesis kemudian dianalisis yaitu pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application selajutnya komprehension untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut. (Qruztyan. Blogs. Friendster.com)


Pendapat lain problem solving adalah suatu pendekatan dimana langkah-langkah berikutnya sampai penyelesaian akhir lebih bersifat kuantitatif yang umum sedangkan langkah-langkah berikutnya sampai dengan pengelesain akhir lebih bersifat kuantitatif dan spesifik (Qrustian Blogs Friendster.com).

Ini berarti oreantasi pembelajaran problem solving merupakan investigasi dan penemuan yang pada dasarnya pemecahan masalah. Apabila pemecahan masalah yang diharapkan tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan berarti telah terjadi masalah dalam tahap-tahap awal sehingga setiap siswa harus mulai kembali berfikir dari awal yang bermasalah untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai masalah yang sedang dihadapi.

Jadi, dalam mempelajari konsep kimia yang baru harus didasari konsep-konsep yang sebelumnya. Mempelajari konsep B yang mendasari konsep A, seorang harus memahami dulu konsep A tidak mungkin orang itu memahami konsep B. ini berarti kimia harus bertahap, dan berkaitan dengan konsep yang satu dengan konsep yang lainnya.

Berpikir memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru adalah kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lain. Suatu masalah umumnya tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir, dan banyak masalah memerlukan pemecahan yang baru bagi orang-orang atau kelompok. Sebaliknya, menghasilkan sesuatu (benda-benda, gagasan-gagasan) yang baru bagi seseorang, menciptakan sesuatu, itu mencakup problem solving. Ini berarti informasi fakta dan konsep-konsep itu tidak penting. Seperti telah kita ketahui, penguasaan informasi itu perlu untuk memperoleh konsep; keduanya itu harus diingat dan dipertimbangkan dalam problem solving dan perbuatan kreatif. Begitu pula perkembangan intelektual sangat penting dalam problem solving (Slameto, 1990 : 139)
Pembelajaran pemecahan masalah adalah suatu kegiatan yang didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa melalui penugasan atau pertanyaan matematika (Tim PPPG Matematika, 2005:93). Fungsi guru dalam kegiatan itu adalah memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing siswa dalam proses pemecahannya. Masalah yang diberikan harus masalah yang pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa. Masalah yang diluar jangkauan kemampuan siswa dapat menurunkan motivasi mereka.

2. Tujuan Pembelajaran Problem Solving
Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Hudojo (2003:155), yaitu sebagai berikut.
(1) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya.
(2) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.
(3) Potensi intelektual siswa meningkat.
(4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan.

3. Langkah-Langkah Problem Solving

Penulis perlu menggunakan pendekatan yang terdiri dari tiga langkah untuk problem solving, dengan demikian konsep problem solving ini bukan teori belaka, tetapi telah terbukti keberhasilannya. Adapun tiga langkah problem solving adalah :

a. Mengidentifikasi masalah secara tepat
Secara konseptual suatu masalah (M) didefinisikan sebagai kesenjangan atau gap antara nerja actual dan targetkinerja (T ) yang diharapkan, sehingga secara simbolik dapat dituliskan bersamaan; M=T – A.berdasarkan konsep seorang problem solver yang professional harus terlebih dahulu nanpu mengetahui berapa atau pada tingkat mana kinerja actual saat ini, dan berapa atau tingkat mana kinerja serta kita harus mampu mendefinisikan secara tegas apa masalah utama kita kemudian menetapkan pada tingkat mana kinerja actual kita sekarang dan kapan waktu pencapain target kinerja itu.
b. Menentukan sumber dan akar penybab dari masalah

Suatu solusi masalah yang efektif, apabila kita berhasil menemukan sumber-sumber dan akar-akar dari masalah itu, kemudian mengambil tindakan untuk menghilangkan masalah-masalah tersebut.
c. Solusi masalah secara efektif dan efisien.
Adapun langkah-langkah Solusi masalah yang efektif dan efisien yaitu:
1. Mendefinisikan secara tertulis
2. Membangun diagram sebab akibat yang dimodifikasi untuk mendefinisikan : a) akar penyebab dari masalah itu, b) penyebab-penyebab yang tidak dapat dikendalikan, namun dapat diperkirakan
3. Setiap akar penyebab dari masalah dimasuskkan ke dalam diagram sebab akibat . sedangkan penyebab yang tidak dapat diperkirakan, didaftarkan pada sebab akibat itu secara tersendiri
4. Mendefiisikan tindakan atau solusi yang efektif melalui memperhatikan dan mempertimbangkan : a)pencegahan terulang atau muncul kembali penyebab –penyebab itu, b) tindakan yang diambil harus ada di bawah pengendalian kita, dan c) memenuhi tujuan dan target kinerja yang ditetapkan.
5. Menerapkan atau melakukan implementasi atau tindakan-tindakan yang diajukan (Vincent Gasper sz, dan Qruztyann.blogs.friendster. com)

Adapun langkah-langkah lain yaitu menurut konsep Dewey yang merupakan berpikir itu menjadi dasar untukproblem solving adalah sebagai berikut:
1. Adanya kesulitan yang dirasakan atau kesadaran akan adanya masalah.
2. Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
3. Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan atau diklasifikasikan.
4. Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesa-hipotesa kemudian hipotesa-hipotesa dinilai, diuji agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
5. Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sebagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai kepada kesimpulan.



4 Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan metode problem solving:
1. dapat membuat peserta didik menjadi lebih menghayati kehidupan sehari-hari
2. dapat melatih dan membiasakan para peserta didik untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil
3. dapat mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik secara kreatif,
4. peserta didik sudah mulai dilatih untuk memecahkan masalahnya.
5.Metode problem solving ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. “kelebihan metode ini mendorong siswa untuk berpikir secara ilmiah, praktis, intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri, menumbuhkan sikap objektif, jujur dan terbuka. Sedangkan kelemahannya memerlukan waktu yang cukup lama, tidak semua materi pelajaran mengandung masalah memerlukan perencanaan yang teratur dan matang, dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif.

b. Kekurangan metode problem solving

(1) memerlukan cukup banyak waktu,
(2) melibatkan lebih banyak orang
(3) dapat mengubah kebiasaan peserta didik belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru,
(4) dapat diterapkan secara langsung yaitu untuk memecahkan masalah

B. PROBLEM BASED LEARNING
1. Pengertian Problem Based Learning
Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap Problem Based Learning (PBL). Salahsatunya menurut Duch (1995)dari data yang kami dapat dari internet yaitu:

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.

Pembelajaran Berbasis Problem (Problem Based Learning) merupakan salah 1 strategi instruksional Learner-Centered. Menurut H.S Barrows (1982) dari data yang kami peroleh dari internet yaitu:
" PBL adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip men ggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru".
Adapun Karakteristiknya antara lain:
• Menghindari pembelajaran terisolasi dan berpusat pada guru
• Menciptakan pembelajaran interdisiplin, berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
• Terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis
• Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
• Pembelajaran berpusat pada siswa dan terjadi pada kelompok kecil
• Guru berperan sebagai tutor dan pembimbing.
• Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
• Masalah adalah kenderaan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
• Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.



2. Tujuan Pembelajaran PBL
Dengan diterapkannya strategi PBL dalam pembelajaran learner-centered akan melatih keterampilan penalaran ilmiah murid sehingga murid dapat berpikir kritis, berpikir tingkat tinggi , melek informasi, terampil dalam mengatur diri, dan bisa selalu belajar. Selain itu dalam bersikap, murid akan mampu menampilkan kerjasama yang baik, melatih keterampilan interpersonal, sehingga dapat meniru peran orang dewasa yang membuat mereka semakin bijak.




Dalam pembelajaran problem based learning guru/dosen sebagai pendidik akan mengajukan masalah otentik ataupun mengorientasikan siswa/mahasiswa kepada masalah. Selain itu, mereka akan memfasilitasi/membimbing penyelidikan (Scaffolding) pada saat eksperimen/ pengamatan, memfasilitasi dialog antara siswa, juga mendukung proses belajar siswa.
Kebutuhan dan tantangan dalam proses pendidikan selalu berubah seiring dengan perubahan kondisi dan situasi zaman. Agar proses pendidikan yang kita jalani dapat menjawab tantangan zaman, maka kita pun harus berubah. Baik dalam cara berpikir, pendekatan maupun keterampilan baru yang kita perlukan dalam proses pembelajaran. Perubahan bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Kendala dan tantangan pasti akan menghadang, tetapi tantangan bukanlah untuk ditakuti melainkan akan menumbuhkan motivasi. Jadi, strategi perencanaan pembelajaran learner-centered khususnya dalam Problem Based Learning ini sangat berperan penting dan berguna sekali dalam membantu proses belajar siswa yang lebih efektif untuk pembelajar sejati yang tiada pernah berhenti untuk belajar.

3. Langkah-langkah Pembelajaran PBL
Langkah-langkah bisa diulang dan didaur ulang.
a. Jelajahi isu-isu:
Guru Anda memperkenalkan masalah kepada Anda. Diskusikan pernyataan masalah dan daftar bagian signifikan. Anda mungkin merasa bahwa Anda tidak tahu cukup untuk menyelesaikan masalah tapi itu adalah tantangan! Anda harus mengumpulkan informasi dan mempelajari konsep baru, prinsip, atau keterampilan yang Anda terlibat dalam proses pemecahan masalah.
b. Daftar "Apa yang kita ketahui?"
Apa yang Anda ketahui untuk memecahkan masalah? Ini mencakup apa yang Anda benar-benar tahu dan apa kekuatan dan kemampuan setiap anggota tim memiliki. Pertimbangkan atau catatan masukan semua orang, tidak peduli betapa anehnya mungkin ditampilkan: bisa menahan kemungkinan!
c. Mengembangkan, dan tuliskan, pernyataan masalah dengan kata-kata Anda sendiri:
Suatu pernyataan masalah harus berasal dari / Anda analisis kelompok tentang apa yang Anda ketahui, dan apa yang Anda perlu ketahui untuk menyelesaikannya. Anda akan perlu:
o pernyataan tertulis
o kesepakatan kelompok Anda pada pernyataan
o umpan balik mengenai pernyataan dari instruktur Anda. (Ini mungkin opsional, tetapi adalah ide yang baik)
d. Daftar keluar solusi yang mungkin
Daftar mereka semua, maka order mereka dari kuat ke lemah, Pilih yang terbaik, atau paling mungkin berhasil.
e. Daftar tindakan yang akan diambil dengan kerangka waktu
o Apa yang kita harus tahu dan lakukan untuk memecahkan masalah?
o Bagaimana kita peringkat kemungkinan ini?
o Bagaimana ini berhubungan dengan daftar kami solusi? Apakah kita setuju?

f.Daftar "Apa yang kita perlu tahu?"
Penelitian pengetahuan dan data yang akan mendukung solusi anda
Anda perlu informasi untuk mengisi kesenjangan yang hilang.
• Diskusikan mungkin sumber daya Ahli, buku, situs web, dll
o Pilih dan jadwal tugas penelitian, khususnya tenggat waktu
• Jika penelitian Anda mendukung solusi Anda,
dan jika ada kesepakatan umum, pergi ke (7). Jika tidak, pergi ke (4)

g.Menulis solusi Anda dengan dokumen pendukung, dan mengirimkannya.
Anda mungkin perlu untuk menyajikan temuan-temuan Anda dan / atau rekomendasi untuk suatu kelompok atau teman sekelas Anda. Ini harus mencakup pernyataan masalah, pertanyaan, data yang dikumpulkan, analisis data, dan dukungan untuk solusi atau rekomendasi berdasarkan analisis data: singkatnya, proses dan hasil. Mempresentasikan dan mempertahankan kesimpulan Anda.
h.Review kinerja Anda
Bangga dengan apa yang telah dilakukan dengan baik, belajar dari apa yang telah. Anda tidak dilakukan dengan baik.
i.Rayakan pekerjaan Anda!

4. Keunggulan dan Kelemahan PBL
Adapun keunggulan-keunggulan dari pembelajaran Problem Based Learning adalah sebagai berikut:
• Dengan metode PBL , seorang pendidik dapat memungkinkan siswa menjadi melek teknologi, melengkapi siswa dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk sukses dalam kompetisi global, dan juga mengajarkan inti kurikulum dengan cara interdisiplin.
• PBL juga akan meningkatkan pendidikan untuk semua siswa, mengubah pola mengajar dari 'memberitahu' hingga ke 'melakukan', menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat lalu membuat keputusan sendiri,, serta memberi kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau memecahkan masalah.
• Dengan PBL dapat menciptakan siswa menjadi aktif
• Menggali kreatifitas siswa dalam memecahkan masalah.
Selain keunggulan pembelajaran problem based learning ini jugamemiliki kelemahan yaitu sebagai berikut:
• Kurang efisien waktu.
• Banyak penyalahgunaan waktu yang diberikan.

C. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PROBLEM SOLVING DAN PROBLEM BASED LEARNING
Persamaan antara problem solving dan PBL adalah sama-sama pembelajaran berbasis masalah atau pemecahan masalah. Baik dalam problem solving maupun problem based learning, peran guru adalah sama-sama sebagai pendidik dan fasilitator. Langkah pembelajaran problem solving dan PBL, sama yaitu pada langkah awal pemberian masalah dari guru.
Perbedaan antara keduanya terletak pada masalah yang dipecahkan atau diselesaikan. Pada problem solving masalah yang diberikan biasanya bukan masalah yang nyata seperti masalah pada problem based learning. Dan cara penyelesaiannyapun juga terdapat perbedaan. Pada problem solving, masalah dapat diselesaikan hanya dengan diskusi saja akan tetapi pada PBL dibutuhkan penelitian mengenai masalah tersebut, sehingga penyelesaian yang diberikanbenar-benar telah banyak melalui proses yang panjang. Langkah-langkah dalam PBL juga lebih panjang dibandingkan dengan langkah-langkah pada problem solving.


III. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan , maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Problem solving dan problem based learning merupakan salah dua metode pembelajaran yang dapat menciptakan siswa aktif.
2. Problem solving dan problem based learning merupakan metode pembelajaran berbasis masalah atau pemecahan (pencarian jalan keluar ) dari suatu masalah.
3. Baik problem solving maupun problem based learning tidak ada yang sempurna, keduanya sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri.
4. Problem solving merupakan metode pembelajaran pemecahan masalah biasa atau umum, sedangkan masalah pada pembelajaran problem based learning merupakan masalah-masalah yang nyata, sehingga pencarian jalan keluarnyapun harus melalui beberapa langkah yang cukup panjang.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2116421-kelebihan-dan-kekurangan-metode-problem/#ixzz1K366qnZQ
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/downloads/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar