Selamat Datang

Semoga blog ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua.

Jumat, 30 September 2011

Pembelajaran Diskoveri

A. Pengertian Pembelajaran Diskoveri Pembelajaran Diskoveri atau Inquiri adalah pelajaran yang menfasilitasi para peserta didik untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri. Di sini guru berupaya memotivasi mereka untuk memiliki pengalaman dengan melakukan eksperimen yang memungkinkan mereka menemukan sendiri jawaban tersebut. Tentang ini Bruner (1966) mengatakan: “kita mengajarkan satu bidangstudi tidak untuk menghasilkan berbagai perpustakaan kecil nan hidup tentang bidangstudi tersebut, tetapi lebih untuk menjadikan peserta didik itu mampu berpikir… bagi dirinya sendiri agar dapat memper-timbangkan layaknya seorang sejarawan, menjadi bagian dari proses membangun pengetahuan. Mengetahui itu proses, bukan produk” Dengan metode ini, siswa dihadapkan kepada situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya dianjurkan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam “menemukan” pengetahuan baru tersebut. Model Pembelajaran ini digunakan biasanya untuk mencapai tiga tujuan pendidikan, yaitu: 1. Agar pelajar mengerti bagaimana berpikir dan menemukan jawaban untuk dirinya sendiri; 2. agar pelajar mengetahui bagaimana pengetahuan itu diformulasikan; dan 3. agar pelajar terbiasa menggunakan berbagai keterampilan berpikir tingkat tertinggi (highest-order thinking skills) mereka. Tujuan-tujuan di atas dapat dicapai dengan beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pembelajaran ini: 1. peran pembelajar bukan sebagai pentransfer pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator dan motivator bagi peserta didik untuk menemukan sendiri pengetahuan; 2. pembelajar menghargai eksplorasi dan pemikiran independen; 3. kesediaan para peserta didik menerima tantangan untuk menemukan jawaban sendiri. Ada perasaan diberdayakan; 4. tingginya partisipasi dan interaksi peserta didik; dan 5. para pelajar mengoperasikan keterampilan berpikir tingkat tertinggi, seperti menganalisis, mesintesis, dan mengevaluasi. Agar berbagai tujuan di atas dapat dicapai, maka pembelajaran ini menuntut pendidik sebagai fasilitator yang baik. Untuk itu dibutuhkan beberapa kualitas tertentu, seperti kenikmatan menemukan sendiri. Di sini pembelajar mesti memiliki rasa keingintahuan yang alamiah dan ketertarikan yang kuat terhadap penemuan kebenaran melalui pendekatan “intelektual” yang empiris, kritis, dan rasional. Terkait dengan itu, pembelajar mesti yakin bahwa peserta didiknya juga bisa memiliki rasa ingin tahu. Lebih dari itu, pembelajar mesti mampu mengasuh, padatpikiran, sabar, menerima berbagai gagasan peserta didik, dan reflektif. Metode Pembelajaran diskoveri sebaiknya dimanfaatkan jika tujuan utama instruksionalnya seperti berikut ini: 1. agar peserta didik berpikir sendiri; 2. membantu mereka menyingkap bagaimana pengetahuan dibangun; 3. meningkatkan keteramilan berpikir tingkat tinggi. Selain itu, pembelajaran ini sebaiknya digunakan jika dirasa bisa memenuhi kebutuhan personal dan edukasional pembelajar-pelajar; juga bila pembelajar telah mampu mengembangkan kualitas dirinya sebagai seorang fasilitator yang baik. B. Langkah-langkah dalam Pembelajaran Diskoveri Agar pelaksanaan penemuan terbimbing berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan. Perumusan harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 2. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan. 3. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS. 4. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. 5. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya. 6. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut di atas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai. 7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya. Disamping itu perlu diiingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100 % kebenaran konjektur. 8.Setelah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar. 9. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa. 10. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan sebagaimana mestinya. C. Keunggulan Keunggulan dari Model Penemuan terbimbing adalah sebagai berikut: 1. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan. 2. Menumbuhkan sekaligus menamkan sikap inquiry (mencari-temukan). 3. Mendukung kemampuan problem solving siswa 4. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 5. Materi yang disajikan dapat mencapai tingkat kemampuan yang lebih tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya (Marzano, dalam Widdiharto: 2004). D. Kekurangan Pembelajaran Diskoveri Ada beberapa kekurangan yang dimiliki oleh model pembelajaran ini. Yang paling utama adalah bahwa seringkali tidak semua peserta didik bisa menerima kelas diskoveri. Mereka kebanyakan tidak bisa diharapkan untuk menemukan elemen-elemen kimia misalnya, atau menemukan pokok-pokok pikiran penulis populer. Hal ini bisa jadi karena domain pengetahuan yang mereka cari masih terlalu komplek buat pikiran sederhana mereka. Dan terkadang, ketika kemampun mereka memadai, waktu dan sumbernya yang tidak mendukung untuk kerja investigasi. Kekurangan kedua ialah seringkali pembelajar tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk memprktikkan pendekatan ini, demikian pula peserta didiknya. Dan yang terakhir, pembelajaran diskoveri tidak menutup kemungkinan peserta didik terjatuh dalam kesalahan dan pemborosan waktu. Karenanya, pembelajaran diskoveri-terbimbing (guided discovery learning) lebih dianjurkan daripada diskoveri-murni (pure discovery learning). Pada diskoveri-terbimbing pembelajar dapat berperan lebih aktif: memberi petunjuk, membuat struktur (porsi) aktivitas, hingga menyediakan garis besar (outlines) pikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar